Rabu, 28 Oktober 2009

Kisah Palsu

Hidup adalah sebuah masalah terbesar bagi seorang manusia dalam yang dalam kondisi seperti aku. Bagiku hidup adalah rangkaian dari masalah-masalah dan tujuan hidup itu adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Begitu sulit rasanya. Memang hidup adalah sebuah masalah, sebuah masalah yang dapat membuat kita terombang-ambing hanya karena hal yang sepele. Namun kalau kita bisa bertahan pasti kita akan mendapat sebuah hikmah yang sangat penting dalam hidup kita.
Subuh itu, aku terbangun dari tidur lelapku. Sejenak kumerenung sepintas masa-masa indah yang pernah kulalui. Dimana kebersamaan, saling percaya, dan cinta menjadi modal utama untuk mendirikan sebuah suasana keakraban. Masa-masa itu memang sangat berkenang bagiku, baginya dan bagi teman-temanku. Ketika aku terhanyut dalam sebuah realita kehidupan remaja yang indah, waktu yang bergulir cepat seakan-akan sengaja memusnahkan semua itu. Waktu memang kejam, waktu memisahkan kami, membuat semua hari-hari yang semestinya indah menjadi gerah dan tak bergairah.
Hidupku jadi tidak tentu arah, ingin mengapa, untuk apa? Itu hal yang membuatku sering ragu-ragu dalam semua hal. Aku tahu ini semua hanya membuatku semakin terpuruk ke lubang yang lebih jauh. Namun aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku memang makhluk yang lemah. Mudah dikalahkan perasaan dan waktu. “Andai saja aku adalah laki-laki yang tangguh pada saat itu , pasti aku tidak akan dikalahkan oleh waktu”, sebuah kalimat penyesalan terucap dalam hatiku. Memang tidak ada orang yang mendengar ucapan itu. Tak seharus aku menyesal akan masa yang berlalu, karena menyesal hari ini hanya membuatku semakin lelah dan lemah.
Tidak ada yang mengerti akan hidupku yang baru kujalani beberapa bulan ini. Walapun hari-hari menyenangkan pernah singgah dihidupku yang baru ini, namun itu hanya sebentar dan palsu.

Tidak ada komentar: