Kamis, 28 Juli 2011

Lagu Minang : Ayam Den Lapeh (live)

Dear kawan sakampuang, anda pasti sudah pernah dengar lagu ayam den lapeh. Tapi mungkin belum mendengar yang versi ini. Lagu ayam den lapeh yang full di aransemen ini merupakan karya anak Tanah Datar. 




Lirik :


Luruihlah jalan Payakumbuah
Babelok jalan Kayu Jati
Dima hati indak kan rusuah
Ayam den lapeh, ohoi … ayam den lapeh
Mandaki jalan Pandaisikek
Manurun jalan ka Biaro
Di ma hati indak maupek
Awak takicuah, ohoi … ayam den lapeh
Reff:
Sikua capang sikua capeh
Saikua tabang sikua lapeh
Tabanglah juo nan karimbo
Ai lah malang juo
Pagaruyuang jo Batusangka
Tampek mandaki dek urang Baso
Duduak tamanuang tiok sabanta
Oi takana juo
Den sangko lamang nasi tuai
Kironyo tatumpah kuah gulai
Awak ka pasa alah usai
Oi lah malang denai
O hoi … ayam den lapeh
O hoi … ayam den lapeh

Rabu, 27 Juli 2011

Koleksi Banner Buatan Sendiri

1. Header blog untuk tugas sekolah




2. Banner untuk link blog (promosi)




3. Banner Promo Band (Rock, Metal, Heavy Metal, Pop)



4. Banner Grup Nasyid (Religi)


5. Logo kelas/ perkumpulan

Rabu, 20 Juli 2011

Aku Si Agent of Change di Masa Depan #1

Oleh: Hafid Rezando

Memiliki pikiran yang hebat adalah suatu kekuatan. Kalimat ini aku pahami ketika aku membaca buku “Berpikir Berjiwa Besar” yang ditulis J.Scwartz. Kemudian tulisan-tulisan tentang berpikir positif yang aku unduh dari internet juga menjadi bacaan atau artikel favoritku. Sudah menjadi kebiasaan bahwa bila aku pergi ke perpustakaan, aku paling suka membalik-balik tumpukan koran untuk mencari artikel tentang kehidupan: masalah kemiskinan, masalah ketidak adilan, masalah rendahnya kualitas SDM dan lain-lain. Way of think yang aku miliki terasa berubah ke arah positif saat duduk di bangku SMA. Saat di SMP aku termasuk anak yang suka ikut-ikutan kegiatan teman yang kurang bermakna, seperti : nongkrong penuh bengong, dan ngobrol ngidul.  
Saat duduk di bangku SMA aku punya banyak teman. Aku ajak mereka membuat kelompok belajar, dan kamipun sangat aktif belajar, juga berdebat tentang hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Contohnya: “bagaimana pendapatmu kalau anak SD membawa hp kamera ke sekolah, bagaimana pendapatmu kalau siswa SMP atau SMA  dibebaskan untuk mengakses internet. Implikasi dari kebiasaan berdebat membuat aku dan teman-teman suka berfikir analitis dan kritis.
Salah seorang guru berkata bahwa cara berfikiru dan kelompok belajarku cukup kritis. Aku mengevaluasi diriku bersama guruku (Marjohan, M.Pd), ternyata aku memiliki pribadi yang tenang, dan amanah:  jika diberi tanggungjawab pantang menolak (alhamdulillah).
Sebuah momentum hebat dalam hidupku adalah saat aku ikut mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Aku tidak memperlihatkan sikap yang ambisius, namun aku sangat senang untuk menggalang keakrapan dengan banyak teman. Dalam kampanye pidato ku banyak berfokus tentang peningkatan kualitas diri dan bagaimana kami bisa tumbuh dan sukses bersama-sama- let us grow dasn develop together. Saat penghitungan suara aku menang dengan total suara  55% buatku. Aku ketua OSIS dan mulai menjalankan peran sebagai “social agent of change” di sekolahku.
Untuk menjadi maju maka kata “changing” memang punya arti yang dahsyat. Aku jugha ingat dengan ayat Al-quran: Allah pun tidak mengubah nasib umatNya, sebelum umatNya sendiri yang mengubahnya.  Oleh sebab itu perubahan ke arah yang baik perlu dilakukan. Selama menjadi ketua OSIS SMAN 3 dan didukung oleh teman-teman aku/kami bisa sukses dalam menjalankan program ekskul (pramuka, silat, program pengembangan diri yang lain).
Peran sebagai “agent of change” di rumah adalah seperti ikut melibatkan diri dalam organisasi pemuda. Aku ikut kegiatan tentang remaja: kegiatan kesenian, olahraga dan juga bakti sosial ke panti jompo dan panti asuhan. Kami melaksanakan kegiatan hiburan dan pelayanan kebersihan.
Aku ingin menjadi “agent of change” dalam level  yang lebih luas untuk masa depan. Kelak bila aku menjadi mahasiswa, aku akan akan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial di kampus (senat, BEM, menwa, dll) dan di luar kampus, misal: di HMI, kegiatan sosial di kelurahan, di mesjid. Mengelola waktu sangat penting agar kuliah ku tidak amruk. Maka sejak dahulu (di SMP) dan sekarang (di SMA) dan selanjutynya di Perguruan Tinggi aku akan tetap melakukan banyak aktivitas melalui pengelolaan waktu yang tepat. Ini berguna agar kuliah ku dan peranku dalam kegiatan kampus dan di luar kampus dapat aku laksanakan dengan baik. 

*tulisan ini dibuat sebagai syarat pengajuan suatu beasiswa di sebuah perguruan tinggi.

Aku Si Agent of Change di Masa Depan

Oleh: Hafid Rezando

Aku adalah orang yang lebih senang berpikir tentang lingkungan sosial dan biologis dibandingkan memimikirkan permasalahn fisika ataupun matematika. Aku lebih senang memikirkan bagaimana cara kita manusia untuk saling menghargai, memikirkan bagaimana caranya agar diskriminasi dalam bidang apapun bisa musnah, dan keadilan bisa ditegakkan dibandingkan memikirkan berapa kelajuan jet tempur  yang kita lihat  dari bumi ataupun volume sebuah silinder raksasa. Hal yang mungkin sedikit berlawanan dengan pen jurusanku di SMA.  Menurutku tidak ada salahnya seorang anak ipa memikirkan sesuatu yang lebih menjurus ke ips. Apa ini adalah hasil pewarisan sifat dari kedua orang tua ku yang berlatarbelakangkan ips dan kuliah di ilmu hukum? Saya rasa tidak karena menurut genetika, ilmu yang diperoleh selama sma sama sekali tidak diwariskan kepada keturunannya. 
Hal ini juga lah yang mungkin mendorongku untuk selalu aktif dikegiatan organisasi. Sejak dari kelas satu SMP aku telah dicalonkan oleh teman-temanku untuk menjadi ketua OSIS. Aku mulai belajar bagaimana demokrasi itu secara langsung tidak hanya dari buku tebal terbitan pengarang terkenal. Mulai dari merancang visi dan misi untuk perubahan sekolah ke yang lebih baik, hingga menyuarakannya ke setiap sudut di sekolah.  Mungkin aku belum beruntung setelah dua periode dicalonkan menjadi ketua OSIS namun aku masih saja  gagal. Menurutku tidak ada kerugian yang aku dapat dari kegagalan itu, malah sebaliknya. Tidak menjadi ketua OSIS pun aku tetap bisa menyuarakan gagasan-gagasan yang  ku punya dan aku pun mendapat banyak hikmah dan pengalaman dari semua itu.
Menurutku perubahan itu adalah sesuatu yang mutlak dilakukan. Allah pun tidak mengubah nasib umatNya, sebelum umatNya sendiri yang mengubahnya. Oleh sebab itu menurutku cara untuk melakukan perubahan besar itu dimulai dari melakukan perubahan-perubahan kecil yang dilaksanakan secara matang dan sempurna yaitu dengan memimpin diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang terbaik dan menjadi tauladan. Sebab menjadi tauladanlah cara yang termudah untuk mempengaruhi orang-orang yang ada disekitar kita. Hal ini telah aku terapkan ketika aku menjabat sebagai Sekretaris OSIS di SMAN 3 Batusangkar. Memang tidak semua orang beranggapan sama dengan ku, tapi itu adalah hal yang biasa, dan sesuatu yang harus kita hargai. Anggapan positif dan negatif itu selalu ada tergantung bagaimana cara kita menanggapinya.
Sampai  akhirnya aku terpilih menjadi ketua OSIS pada periode berikutnya. Berbekal pengalaman yang ku  punya dan teman-teman yang mendukungku, aku memimpin OSIS SMAN 3 Batusangkar, dan berhasil melakukan perubahan-perubahan kecil pada SMAN 3 Batusangkar yang mudah-mudahan bisa berdampak besar pada masa yang akan datang. Untuk kedepannya aku masih ingin tetap menyauarakan ide-ide perubahan ke arah yang lebih baik mungkin dimulai dari organisasi-organisasi masyarakat yang ada disekitarku hingga nantinya jika aku bisa lulus keperguruan tinggi aku ingin menjadi bagian dari organisasi kemahasiswaaan. Karena menurut ku  itu adalah suatu langkah awal yang baik untuk melakukan perubahan-perubahan kecil yang dilakukan dengan baik dan sempurna hingga terciptalah sebuah perubahan besar. Aku yakin nantinya aku bisa merubah orang-orang disekitarku dan minimal aku akan merubah keluarga ku karena menurutku aku punya tiga kekuatan dashyat yaitu mimpi (niat dan kemauan), usaha (ulet, pantang menyerah, doa dan tawakal), dan semangat (ridho orang tua dan dukungan sahabat).

Rabu, 13 Juli 2011

Asal-Usul ANTIK SMAN 3 Batusangkar

          ANTIK adalah sebutan untuk angkatan ke 5 SMAN 3 Batusangkar. Nama ANTIK sendiri merupakan singkatan dari Angkatan Tigo Kapalo.Penjelasan lebih lanjutnya nama ANTIK terinspirasi dari tiga orang yang telah menjadi pemimpin (Tigo Kapalo sekolah-red) SMAN 3 Batusangkar. Selama tiga tahun ditempa dan diterpa di sekolah unggulan Kabupaten Tanah Datar, anak-anak ANTIK telah merasakan di pimpin oleh tiga orang hebat dengan karakter kepemimpinan yang berbeda. Drs. H Darisman, M. Pd, sebagai salah seorang pencetus sekaligus kepala sekolah pertama SMP-SMA Negeri Unggul Tanah Datar yang sekarang menjadi SMPN 5 Batusangkar dan SMAN 3 Batusangkar. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat disiplin. Sekarang beliau menjabat sebagai kepala dinas pendidikan kabupaten Tanah datar.           

             Pada tahun 2009 ANTIK di pimpin oleh Drs. Masrizal Boer, sosok pemimpin yang sangat demokratis. Selanjutnya sosok pemimpin yang telah sukses mengantarkan ANTIK lulus UN 100% dan mendapatkan peringkat 1 di Kabupaten Tanah Datar adalah Drs. H. Rosfairil. Kepala sekolah yang cukup akrab dengan para siswa ini sangat gigih dalam melanjutkan program keunggulan di SMAN 3 Batusangkar sehingga hal ini menumbuhkan motivasi-motivasi untuk lebih berprestasi kepada seluruh komponen SMAN 3 Batusangkar khususnya bagi siswa-siswi SMAN 3 Batusangkar.
             

Cinta Tanpa Mata

Cinta Tanpa Mata
Oleh : Hafid Rezando
Lengkap dengan saluak dan suntiang pasangan itu tengah terlihat bahagia oleh ku, menyambut sisa-sisa hari yang akan mereka lalui berdua.
Selasa, 06 Februari 2009 dia menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat yang menurut banyak orang adalah tempat yang tidak selayaknya ada. Tapi harus bagaimana lagi, tidak banyak yang bisa dia lakukan. Dia harus tinggal di tempat ini, karena semua anak dan cucunya tengah sibuk mengais rejeki di rantau orang. Sebut saja namanya Darwis, nama yang tidak pernah ku temukan lagi pada teman-teman seangkatanku. Dengan langkah yang kokoh dan tegar walaupun terlihat ototnya sudah mulai keriput ia berangkat sendiri dari kampungnya yang berada sekitar 20km arah barat Kota Batusangkar. Sambil mengangkat dua tas berukuran sedang ia masuk ke ruang administrasi. “Pak ambo ka tingga disiko”, katanya pada salah seorang pegawai di tempat itu. “Silahkan duduak dulu apak disiko, wak ambiak berkas administrasinyo dulu”, sahut pegawai itu.
Sebenarnya kedatangan Pak Darwis telah diketahui sebelumnya, karena anaknya telah terlebih dahulu menghubungi panti social ini. Setelah beberapa lama diinterview akhirnya ia diperbolehkan untuk tinggal di tempat ini. Kemudian salah seorang pegawai lainnya mengantarkan Pak Darwis ke wisma papaya. Wisma yang tidak terlalu jauh dari mesjid yang ada di komplek ini. Jam pun menunjukkan pukul setengah enam, sebentar lagi azan magrib pun berkumandang. Pak Darwis pun diajak temannya untuk segera melaksankan shalat maghrib berjamaah di mesjid. “Darwis, capeklah pai ka musajik wak lai, langsuang baok sia nasi”, ajak temannya. “Yo tunggu sabanta samo kito pai”, sahut Pak Darwis.
Mulai hari itu Pak Darwis mulai bersosialisasi dengan penghuni panti lainnya. Bermacam-macam cerita ia dapatkan tiap hari. Hingga ia merasa cukup beruntung karena kisah hidup yang dialaminya tidak begitu sepahit kisah hidup teman-teamnnya. Bahkan ada beberapa orang temannya yang sengaja dibuang begitu saja oleh anaknya, tidak pernah dikunjungi oleh anaknya lagi, bahkan sudah dianggap tiada oleh anaknya. Beruntung anak Pak Darwis masih setia mengunjungi Pak Darwis sekali dua bulan. Hari demi hari Pak Darwis lalui disana. Pak Darwis yang dahulunya adalah seorang tentara, masih terlihat disiplin dalam menghadapi hidupnya di panti jompo ini. Pak darwis selalu bangun sebelum waktu subuh masuk. Terkadang ia juga sering menjadi muazim untuk mengumandangkan azan subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh Pak Darwis lari pagi disekitar komplek. Sehingga pola hidupnya yang teratur membuat tubuhnya masih terlihat segar dibandingkan orang lain yang seusianya. Mungkin karena ini juga cukup banyak nenek-nenek yang senang bergaul dengan Pak darwis. Sebut saja salah satunya adalh Mak Ana.
Mak Ana adalah seorang nenek yang telah mendiami panti jompo itu selama kurang lebih tiga tahun. Cukup senior (menurutku). Mak Ana masuk panti jompo sejak suaminya menginggal. Mak Ana hanya tinggal sebatang kara karena ia tidak mempunyai anak. Memang Mak Ana punya saudara, tapi semua saudaranya berada jauh dirantau orang, di Makasar. Mak Ana lah yang senantiasa bersedia memperkenalkan lingkungan sekitar panti jompo ini kepada Pak Darwis. Mak Ana juga sering mengambilkan sia nasi Pak Darwis ketika Pak Darwis terlihat letih. Mungkin diam-diam Mak Ana tertarik dengan Pak Darwis.
Suatu ketika, saat Panti Sosial Tresna Werdha akan merayakan hari Lansia(lanjut usia). Seluruh penghuni panti dikumpulkan ke ruang pertemuan yang cukup besar yang berada di panti itu. Tidak terkecuali Pak Darwis dan Mak Ana yang yang datng secara berbarengan. Pertemuan pun dimulai, acara pertama yaitu sambutan dari kepala panti. Setelah mendengar penjelasan dari kepala panti bahwa akan diadakannya berbagai kegiatan perlombaan untuk merayakan hari lansia yang akan dirayakan bersama-sama seluruh panti jompo yang ada di Sumatera Barat. Kegitan tersebut di pusatkan Panti Jompo Sabai Nan Aluih yang berada di Sicincin.
Kegiatan yang akan diadakan antara lain: lomba pop minang, lomba mars lansia, lomba baca puisi dan terakhir lom menari berpasangan. Tentu saja semua lomba tersebut diperuntukkan buat lansia. Pegawai panti pun mendata siapa saja yang akan mengikuti kegiatan tersebut. Satu persatu pegawai panti tersebut menyebutkan nama-nama yang akan ikut,” Pak Nurulis ikuik lomba baco puisi, Mak Nuriah ikuik lomba pop minang, untuk tari berpasangan ambo alun dapek urangnyo lai apak-apak baa sarancaknyo?’’. “Pak Darwis jo Mak Ana jo lah yang ikuik baanyo pak?, juru masak panti mengusulkan. “Oo..,iyo rancak tu ma!”, jawab pegawai itu. Langsung saja ia menanyakan persetujuan Pak darwis dan Mak Ana. “Lai nio apak jo amak ikuik tari tu?”, tanya pegawai itu. “Baa mak lai nio?”, tanya Pak Darwis kepada Mak Ana. “Awak nio pak”, jawab Mak Ana.
Tentu saja Mak Ana langsung setuju, dahulu waktu muda mak Ana adalah seorang penari adat yang cukup tenar di kampungnya. Sejak ia duduk dibangku sekolah rakyat Mak Ana telah mulai menari di acara-acara adat dikampungnya. Walaupun sekarang ia sudah tua dan keriput namun tubuhnya masih sanggup untuk menari-nari. Mendengar jawaban Mak Ana yang begitu semangat Pak Darwis pun tidak tega untuk tidak setuju mengikuti acara itu. Padahal Pak Darwis tidak bisa dan tidak pernah menari. “Oy, Ana ambo yobana ndak pandai manari-nari ko”, Pak Darwis memberi penjelasan. “Tanang jo lah Pak, bia ambo ajakan”, Mak Ana meyakinkan Pak Darwis.
Beberapa hari sudah Pak Darwis dan Mak Ana lalui untuk latihan menari. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua peserta dari bersiap-siap panti jompo Batusangkar bersiap-siap untuk segera berangkat dengan bus dinas sosial yang telah standby disana. Setelah kurang dari dua jam perjalanan rombongan dari Batusangkar pun tiba di Sicincin. Terlihat suasana yang begitu ramai disana. Para lansia se-Sumatera Barat sedang berkumpul dan sebentar lagi akan saling unjuk gigi. Acara pun segera di mulai Pak Darwis dan Mak Ana tampil pertama. Sungguh tidak disangka penampilan Pak darwis dan Mak Ana tampil dengan begitu memesona. Penampilan mereka begitu banyak menyita perhatian dari penonton dan merekapun mendapat standing aplause dari dewan juri. Hasilnya pun sudah bisa ditebak, dan tidak meleset dari perkiraanku. Pak Darwis dan Mak Ana berhasil memperoleh juara satu untuk kategori tari berpasangan. Hal ini juga merupakan kemenangan satu-satunya yang diperoleh panti jompo Batusangkar. Begitu bangga dan senangnya perasaan yang mereka berdua rasakan.
Rombongan pun bersiap-siap untuk kembali ke batusangkar. beberapa hari setelah itu, hubungan antara pak Darwis dan Mak Ana semakin dekat. Entah sebab apa mereka berani memutuskan untuk menikah. “Pak ambo ka manikah jo Mak ana”, Pak Darwis menjelaskan keinginannya kepada pihak panti. “Apo apak yakin?”, tanya kepala panti. “Ambo yakin Pak!”, jawab Pak darwis. Kepala panti pun mengabari hal ini kepada keluarganya. Keluarga Pak darwis pun menjawab jika dengan hal itu bapak saya akan bahagia, maka saya izinkan. Kepala panti pun tidak punya alasan untuk melarang Pak Darwis dan Mak Ana untuk menikah. Memang hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi di panti Jompo ini. Pihak panti memfasilitasi seluruh perlengkapan untuk pernikahan Pak darwis tadi. Mulai dengan menyiapkan kamar pengantin, baju untuk pernikahan, hingga acara kecil-kecilan. Tidak lupa tamu-tamu terhormat pun diundang.
“Saya terima nikahnya Ana bin Alm. Mustofa dengan sepernagkat alat sholat dibayar tunai”, ijab kabul sang kakek. “Syah, syah..”, spontan jawab para saksi. Senang bercampur dengan haru, itu lah yang yang dirasakan Pak Darwis dan Mak Ana. Kisah yang begitu membingungkan, sesuatu yang menurutku tidak mungkin terjadi teranyata disini terjadi. Apakah ini gila atau cinta itu memang tidak punya mata?

-------------------sekian---------------------

Selasa, 12 Juli 2011

Tips Memilih Bimbel

         Yaah, ga terasa bentar lagi masa putih abu-abu ini akan berakhir.hiks...hiks jadi sedih, padahal masih pengen berlama-lamaan dimasa yang kata orang masa yang paling seru ini. ya udahlah kawan, kita kembali ke misi awal menagapa kita sekolah di SMA. menurut saya SMA merupakan tempat transit kita untuk menuju pendidikan yang lebih tinggi. jadi SMA sama sekali tidak menciptakan generasi yang benar-benar siap untuk memasuki dunia pekerjaan ( ada yang tidak setuju??boleh protes ). nah maka daripada itu kita masih punya satu tahap lagi buat menjadi seorang profesional, yaitunya perguruan tinggi. wah mudah banget tu kayaknya nyebut perguruan tinggi, apa semudah itu ya memasukinya?? kayaknya gak deh,,apalagi buat masuk perguruan tinggi yang favorit. 
           Belum lagi mengkaji jurusan apa yang akan kita ambil, ribet deh. memang beginilah negeriku yang tercinta masuk kuliah aja susah, gimana caranya pemerataan pendidikan? gimana caranya peningkatan kesejahteraan rakyat? hhuaah...  kita harus ngikuti seleksi se indonesia dulu (SNMPTN) buat bisa ditrima tuh (kalo lulus juga). baru masuk ke inti permasalahannya nih kawan, agar kita bisa jebol tuh yang namanya snmptn tentunya kita butuh usaha ekstra salah satunya dengan ikut bimbel. sekarang timbul lagi pertanyaan 'saya mau ikut bimbel apa'? jadi bingung juga karena lembaga bimbel tu juga berjibun banyaknya dengan gaya yang mempengaruhi pribadi kita. baiklah kawan daripada makin bingung langsung aja ini beberapa tips memilih lembaga bimbel:
  1. kamu harus lihat bener tuh program-programnya, apa sesuai dengan kebutuhan kamu
  2. kamu harus  cari informasi seakurat mungkin, kalau perlu dari para alumni tempat dimana kamu bimbel
  3. carilah tempat bimbel yang sesuai dengan cara belajar yang paling nyaman buat kamu (biasanya lembaga bimbel punya sistim belajar yang berbeda-beda)
  4. jangan gampang tergiur dengan promosi-promosi yang menggiurkan
  5. usahakan memilih lembaga bimbel yang telah berstandar nasional
  6. berpikirlah secara rasional tentang harga yang di patok oleh lembaga bimbel tersebut
nah gimana? semoga membantu yah. tapi yang paling penting itu pribadi kita, bukanlah lembaga bimbelnya. sehebat apapun lembaga bimbel itu, kalau kita tidak punya keinginan untuk sukses yah percuma saja.





































































































































































































































































Titik Nadir dalam Kehidupanku

Essai ini sengaja saya buat untuk memenuhi persyaratan beasiswa di sebuah perguruan tinggi.28 Mei 2011

           Berawal dari aku masuk ke SMPN 5 Batusangkar yang merupakan sekolah unggulan di Kabupaten Tanah Datar. Ketika itu guru-guruku hanya menganggap aku hanya anak yang biasa –biasa saja.  setahun lebih bersekolah disana aku belum mencapai prestasi yang maksimal. Padahal ketika SD aku selalu juara kelas. Aku sangat down dengan kondisi seperti itu. Hingga akhirnya aku berpikir aku harus bangkit! Aku tidak ingin menjadi orang yang biasa biasa saja.  Satu kalimat yang menginspirasi ku, “kalau ingin sukses anda harus berani beda dari yang lain”.
        Kata-kata ini membangkitkan semangatku, aku tidak bisa melihat diriku dan orang-orang disekitarku kecewa. Oleh karena itu aku selalu berusaha terus bangkit dari setiap kegagalan yang pernah ku alami. Dengan semangat yang aku pegang teguh, aku berhasil mewujudkan mimpi-mimpi kecilku. Aku berhasil menjadi orang yang berpengaruh di OSIS, Juara 1 Olimpiade Biologi Tk. Kabupaten, peringkat atas lomba pelajaran UN (matematika, bahasa Indonesia, dan ipa)  tk. Sumbar,dll. hingga aku menamatkan SMP dengan nilai yang sangat memuaskan (dengan rata-rata 9.025).
              Melanjutkan studi ke SMAN 3 Batusangkar yang juga merupakan sekolah unggulan, aku ingin mewujudkan mimpiku yang masih tertunda. Awalnya aku berhasil menjadi ketua OSIS SMAN 3 Batusangkar, satu mimpi ku terwujud. Dengan semangat yang aku pegang teguh tadi, aku berhasil berprestasi di tingkat nasional pada ajang Astra Honda Motor Best Student 2010. Alhamdulillah setelah aku melewati titik terendah di hidupku, aku dapat bangkit dan berprstasi. Percayalah dimana ada keinginan yang kuat serta diiringi usaha Allah SWT akan membukakan jalan untuk hambaNya.