Rabu, 13 Juli 2011

Cinta Tanpa Mata

Cinta Tanpa Mata
Oleh : Hafid Rezando
Lengkap dengan saluak dan suntiang pasangan itu tengah terlihat bahagia oleh ku, menyambut sisa-sisa hari yang akan mereka lalui berdua.
Selasa, 06 Februari 2009 dia menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat yang menurut banyak orang adalah tempat yang tidak selayaknya ada. Tapi harus bagaimana lagi, tidak banyak yang bisa dia lakukan. Dia harus tinggal di tempat ini, karena semua anak dan cucunya tengah sibuk mengais rejeki di rantau orang. Sebut saja namanya Darwis, nama yang tidak pernah ku temukan lagi pada teman-teman seangkatanku. Dengan langkah yang kokoh dan tegar walaupun terlihat ototnya sudah mulai keriput ia berangkat sendiri dari kampungnya yang berada sekitar 20km arah barat Kota Batusangkar. Sambil mengangkat dua tas berukuran sedang ia masuk ke ruang administrasi. “Pak ambo ka tingga disiko”, katanya pada salah seorang pegawai di tempat itu. “Silahkan duduak dulu apak disiko, wak ambiak berkas administrasinyo dulu”, sahut pegawai itu.
Sebenarnya kedatangan Pak Darwis telah diketahui sebelumnya, karena anaknya telah terlebih dahulu menghubungi panti social ini. Setelah beberapa lama diinterview akhirnya ia diperbolehkan untuk tinggal di tempat ini. Kemudian salah seorang pegawai lainnya mengantarkan Pak Darwis ke wisma papaya. Wisma yang tidak terlalu jauh dari mesjid yang ada di komplek ini. Jam pun menunjukkan pukul setengah enam, sebentar lagi azan magrib pun berkumandang. Pak Darwis pun diajak temannya untuk segera melaksankan shalat maghrib berjamaah di mesjid. “Darwis, capeklah pai ka musajik wak lai, langsuang baok sia nasi”, ajak temannya. “Yo tunggu sabanta samo kito pai”, sahut Pak Darwis.
Mulai hari itu Pak Darwis mulai bersosialisasi dengan penghuni panti lainnya. Bermacam-macam cerita ia dapatkan tiap hari. Hingga ia merasa cukup beruntung karena kisah hidup yang dialaminya tidak begitu sepahit kisah hidup teman-teamnnya. Bahkan ada beberapa orang temannya yang sengaja dibuang begitu saja oleh anaknya, tidak pernah dikunjungi oleh anaknya lagi, bahkan sudah dianggap tiada oleh anaknya. Beruntung anak Pak Darwis masih setia mengunjungi Pak Darwis sekali dua bulan. Hari demi hari Pak Darwis lalui disana. Pak Darwis yang dahulunya adalah seorang tentara, masih terlihat disiplin dalam menghadapi hidupnya di panti jompo ini. Pak darwis selalu bangun sebelum waktu subuh masuk. Terkadang ia juga sering menjadi muazim untuk mengumandangkan azan subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh Pak Darwis lari pagi disekitar komplek. Sehingga pola hidupnya yang teratur membuat tubuhnya masih terlihat segar dibandingkan orang lain yang seusianya. Mungkin karena ini juga cukup banyak nenek-nenek yang senang bergaul dengan Pak darwis. Sebut saja salah satunya adalh Mak Ana.
Mak Ana adalah seorang nenek yang telah mendiami panti jompo itu selama kurang lebih tiga tahun. Cukup senior (menurutku). Mak Ana masuk panti jompo sejak suaminya menginggal. Mak Ana hanya tinggal sebatang kara karena ia tidak mempunyai anak. Memang Mak Ana punya saudara, tapi semua saudaranya berada jauh dirantau orang, di Makasar. Mak Ana lah yang senantiasa bersedia memperkenalkan lingkungan sekitar panti jompo ini kepada Pak Darwis. Mak Ana juga sering mengambilkan sia nasi Pak Darwis ketika Pak Darwis terlihat letih. Mungkin diam-diam Mak Ana tertarik dengan Pak Darwis.
Suatu ketika, saat Panti Sosial Tresna Werdha akan merayakan hari Lansia(lanjut usia). Seluruh penghuni panti dikumpulkan ke ruang pertemuan yang cukup besar yang berada di panti itu. Tidak terkecuali Pak Darwis dan Mak Ana yang yang datng secara berbarengan. Pertemuan pun dimulai, acara pertama yaitu sambutan dari kepala panti. Setelah mendengar penjelasan dari kepala panti bahwa akan diadakannya berbagai kegiatan perlombaan untuk merayakan hari lansia yang akan dirayakan bersama-sama seluruh panti jompo yang ada di Sumatera Barat. Kegitan tersebut di pusatkan Panti Jompo Sabai Nan Aluih yang berada di Sicincin.
Kegiatan yang akan diadakan antara lain: lomba pop minang, lomba mars lansia, lomba baca puisi dan terakhir lom menari berpasangan. Tentu saja semua lomba tersebut diperuntukkan buat lansia. Pegawai panti pun mendata siapa saja yang akan mengikuti kegiatan tersebut. Satu persatu pegawai panti tersebut menyebutkan nama-nama yang akan ikut,” Pak Nurulis ikuik lomba baco puisi, Mak Nuriah ikuik lomba pop minang, untuk tari berpasangan ambo alun dapek urangnyo lai apak-apak baa sarancaknyo?’’. “Pak Darwis jo Mak Ana jo lah yang ikuik baanyo pak?, juru masak panti mengusulkan. “Oo..,iyo rancak tu ma!”, jawab pegawai itu. Langsung saja ia menanyakan persetujuan Pak darwis dan Mak Ana. “Lai nio apak jo amak ikuik tari tu?”, tanya pegawai itu. “Baa mak lai nio?”, tanya Pak Darwis kepada Mak Ana. “Awak nio pak”, jawab Mak Ana.
Tentu saja Mak Ana langsung setuju, dahulu waktu muda mak Ana adalah seorang penari adat yang cukup tenar di kampungnya. Sejak ia duduk dibangku sekolah rakyat Mak Ana telah mulai menari di acara-acara adat dikampungnya. Walaupun sekarang ia sudah tua dan keriput namun tubuhnya masih sanggup untuk menari-nari. Mendengar jawaban Mak Ana yang begitu semangat Pak Darwis pun tidak tega untuk tidak setuju mengikuti acara itu. Padahal Pak Darwis tidak bisa dan tidak pernah menari. “Oy, Ana ambo yobana ndak pandai manari-nari ko”, Pak Darwis memberi penjelasan. “Tanang jo lah Pak, bia ambo ajakan”, Mak Ana meyakinkan Pak Darwis.
Beberapa hari sudah Pak Darwis dan Mak Ana lalui untuk latihan menari. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua peserta dari bersiap-siap panti jompo Batusangkar bersiap-siap untuk segera berangkat dengan bus dinas sosial yang telah standby disana. Setelah kurang dari dua jam perjalanan rombongan dari Batusangkar pun tiba di Sicincin. Terlihat suasana yang begitu ramai disana. Para lansia se-Sumatera Barat sedang berkumpul dan sebentar lagi akan saling unjuk gigi. Acara pun segera di mulai Pak Darwis dan Mak Ana tampil pertama. Sungguh tidak disangka penampilan Pak darwis dan Mak Ana tampil dengan begitu memesona. Penampilan mereka begitu banyak menyita perhatian dari penonton dan merekapun mendapat standing aplause dari dewan juri. Hasilnya pun sudah bisa ditebak, dan tidak meleset dari perkiraanku. Pak Darwis dan Mak Ana berhasil memperoleh juara satu untuk kategori tari berpasangan. Hal ini juga merupakan kemenangan satu-satunya yang diperoleh panti jompo Batusangkar. Begitu bangga dan senangnya perasaan yang mereka berdua rasakan.
Rombongan pun bersiap-siap untuk kembali ke batusangkar. beberapa hari setelah itu, hubungan antara pak Darwis dan Mak Ana semakin dekat. Entah sebab apa mereka berani memutuskan untuk menikah. “Pak ambo ka manikah jo Mak ana”, Pak Darwis menjelaskan keinginannya kepada pihak panti. “Apo apak yakin?”, tanya kepala panti. “Ambo yakin Pak!”, jawab Pak darwis. Kepala panti pun mengabari hal ini kepada keluarganya. Keluarga Pak darwis pun menjawab jika dengan hal itu bapak saya akan bahagia, maka saya izinkan. Kepala panti pun tidak punya alasan untuk melarang Pak Darwis dan Mak Ana untuk menikah. Memang hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi di panti Jompo ini. Pihak panti memfasilitasi seluruh perlengkapan untuk pernikahan Pak darwis tadi. Mulai dengan menyiapkan kamar pengantin, baju untuk pernikahan, hingga acara kecil-kecilan. Tidak lupa tamu-tamu terhormat pun diundang.
“Saya terima nikahnya Ana bin Alm. Mustofa dengan sepernagkat alat sholat dibayar tunai”, ijab kabul sang kakek. “Syah, syah..”, spontan jawab para saksi. Senang bercampur dengan haru, itu lah yang yang dirasakan Pak Darwis dan Mak Ana. Kisah yang begitu membingungkan, sesuatu yang menurutku tidak mungkin terjadi teranyata disini terjadi. Apakah ini gila atau cinta itu memang tidak punya mata?

-------------------sekian---------------------

Tidak ada komentar: